Assalamu'alaikum dan salam sejahtera..........Selamat datang ke blog Mekarharum, Mata Pelajaran Vokasional Landskap dan Nurseri, SMK Telok Kerang, Pontian, Johor..........Indahkan kawasan tempat kediaman kita dengan landskap yang cantik dan menarik
Showing posts with label Tempat Menarik. Show all posts
Showing posts with label Tempat Menarik. Show all posts

Thursday, October 23, 2014

ISTANA ALHAMBRA WARISAN SENI BINA DAN SENI TAMAN ISLAM MASA SILAM

Istana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor dari daerah Afrika Utara. Bani Ahmar adalah penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia (Spanyol).

Istana Alhambra berdiri kokoh di bukit La Sabica, Granada, Spanyol. Ia menjadi saksi bisu sekaligus bukti sejarah kejayaan Islam di Spanyol (dulu Andalusia). 

Nama Alhambra berasal dari bahasa Arab, hamra’ , bentuk jamak dari ahmar yang berarti “merah”. Dinamakan Istana Alhambra–yang berarti Istana Merah–karena bangunan ini banyak dihiasi ubin-ubin dan bata-bata berwarna merah, serta penghias dinding yang agak kemerah-merahan dengan keramik yang bernuansa seni Islami, di samping marmer-marmer yang putih dan indah. 

Namun demikian, ada pula yang berpendapat, nama Alhambra diambil dari Sultan Muhammad bin Al-Ahmar,  pendiri kerajaan Islam Bani Ahmar –kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Spanyol (1232-1492 M). 

Selain menjadi bukti kejayaan Islam, Istana Alhambra yang bernilai seni arsitektur tinggi ini juga memperlihatkan peradaban tinggi umat Islam tempo dulu.

Istana Alhambra adalah simbol puncak kejayaan Islam di Spanyol. Islam masuk ke negeri ini dibawa oleh pasukan Islam pimpinan Thariq bin Ziyad yang dikirim raja muda Islam di Afrika, Musa bin Nusair. Pasukan Islam sendiri datang untuk memerdekakan Andalusia (Spanyol) dari kekacauan hebat atas permintaan Gubernur Ceuta, Julian. 

Thariq membawa sekitar 12.000 pasukan ke Gibraltar pada Mei 711 M. Ia memasuki Spanyol lewat selat di antara Maroko dan Spanyol yang kemudian diberi nama sesuai dengan namanya, Jabal Thariq. 

Tanggal 19 Juli 711 M pasukan Islam mengalahkan pasukan Kristen di daerah Muara Sungai Barbate, dan terus menguasai kota-kota penting –Toledo, Kordoba, Malaga, dan Granada, hingga akhirnya Spanyol berada di bawah kekuasaan Khilafah Bani Umayyah (Suriah). Sejumlah kerajaan Islam pun berdiri di Spanyol, seperti di Toledo (Raja Muda, 711-756 M), Malaga (Raja Hamudian, 1010-1057), Saragoza (Raja Tujbiyah, 1019-1039 dan Raja Huddiyah, 1039-1142), Valencia (Raja Amiriyah, 1021-1096), Badajos (Raja Aftasysyiyah, 1022-1094), Sevilla (Raja Abbadiyah, 1023-1069), dan Toledo (Raja Dzun Nuniyah, 1028-1039).

Hampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Spanyol dengan ibukotanya Cordoba. Selain Istana Alhambra, satu lagi monumen penting kejayaan Islam di Spanyol adalah Masjid Cordoba yang kini beralihfungsi menjadi Gereja Santa Maria de la Sede atau katedral “Virgin of Assumption”. 

Daulah Bani Ahmar
Istana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor (Moria) dari daerah Afrika Utara. Bangsa Moor adalah penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia (Spanyol), Daulah Bani Ahmar (1232-1492 M). Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar atau Bani Nasr yang masih keturunan Sa’id bin Ubaidah, seorang sahabat Rasulullah saw dari suku Khazraj di Madinah. 

Pembangunan Istana Alhambra dilakukan secara bertahap, antara tahun 1238 dan 1358 M. Istana ini dilengkapi taman juga bunga-bunga indah nan harum. Ada juga Hausyus Sibb (Taman Singa) yang dikelilingi oleh 128 tiang yang terbuat dari marmer.

Di taman ini pula terdapat kolam air mancur yang dihiasi dengan 12 patung singa yang berbaris melingkar, yakni dari mulut patung singa-singa tersebut keluar air yang memancar. Di dalamnya terdapat berbagai ruangan yang indah, yaitu Ruangan Al-Hukmi (Baitul Hukmi), yakni ruangan pengadilan dengan luas 15 m x 15 m yang dibangun oleh Sultan Yusuf I (1334-1354); Ruangan Bani Siraj (Baitul Bani Siraj), ruangan berbentuk bujur sangkar dengan luas bangunan 6,25 m x 6,25 m yang dipenuhi dengan hiasan-hisan kaligrafi Arab.

Ada pula Ruangan Bersiram (Hausy ar-Raihan), ruangan yang berukuran 36,6 m x 6,25 m yang terdapat pula al-birkah atau kolam pada posisi tengah yang lantainya terbuat dari marmer putih. Luas kolam ini 33,50 m x 4,40 m dengan kedalaman 1,5 m, yang di ujungnya terdapat teras serta deretan tiang dari marmer; Ruangan Dua Perempuan Bersaudra (Baitul al-Ukhtain), yaitu ruang yang khusus untuk dua orang bersaudara perempuan Sultan Al-Ahmar; Ruangan Sultan (Baitul al-Mulk); dan masih banyak ruangan-ruangan lainnya, seperti ruangan Duta, ruangan As-Safa’, ruangan Barkah, Ruangan Peristirahatan sultan dan permaisuri. Di sebelah utara ruangan ini ada sebuah masjid yakni Masjid Al-Mulk.

Selain itu, istana merah ini dikelilingi oleh benteng dengan plesteran yang kemerah-merahan. Yang lebih unik lagi pada bagian luar dan dalam istana ini ditopang oleh pilar-pilar panjang sebagai penyangga juga penghias istana Alhambra. Dinding luar dan dalam istana banyak dihiasi kaligrafi dengan ukiran khas yang sulit dicari tandingannya hingga kini.

Pada masa kejayaannya, istana ini dilengkapi pula dengan barang-barang berharga yang terbuat dari logam mulia, perak, dan permadani-permadani indah yang masih alami (buatan tangan).

Daulah Bani Ahmar bermula dari kerajaan kecil, namun dengan cepat menjadi kerajaan kuat dan megah, hingga berkuasa selama sekitar 2,5 abad. Selain keshalihan dan kecerdasan para pemimpinnya, kejayaan Daulah Bani Ahmar ditunjang oleh keadaan alam wilayah Granada yang termasuk bukit atau pegunungan yang indah, dengan ketinggian kurang lebih 150 m, dan luas kira-kira 14 ha. Dengan kondisi geografis demikian, daerah kerajaan ini sulit dimasuki musuh. Daerah ini sekarang dinamakan Bukit La Sabica.


Raja-raja Bani Ahmar sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Saat itu bidang pertanian dan perdagangan sangat maju. Yang menyebabkan kerajaan ini jatuh adalah kerapuhan dari dalam, yakni sengketa yang terjadi di dalam kerajaan sendiri.

Sultan Muhammad XII Abu Abdillah an Nashriyyah, raja terakhir Bani Ahmar, tidak berhasil mempertahankan kerukunan keluarga kerajaan. Akhirnya energi mereka terkuras. Akibat fatalnya, kerajaan pun tidak dapat bertahan ketika datang serangan dari dua buah kerajaan Kristen yang bersatu, Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella. Kedua pemimpin kerajaan ini pula yang mendukung penjelajahan Columbus tahun 1492 M.

Pada pertengahan 1491, Raja Ferdinand V mengepung Granada selama tujuh bulan. Ia berhasil menguasai kota Malaga –kota pelabuhan terkuat di Andalusia, lalu Guadix dan Almunicar, Baranicar, dan Almeria. Basis kerajaan Bani Ahmar, Granada, pun akhirnya tunduk, tepatnya tanggal 2 Januari 1492 M/2 Rabiul Awwal 898 H. Kota ini diserahkan oleh raja terakhir Bani Ahmar, Abu Abdillah. Prosesi penyerahan Granada dilakukan di halaman Istana Alhambra.

Keberhasilan Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella menguasai Granada, membuat Paus Alexander VI (1431-1503) yang terkenal dengan perjanjian Tordesillasnya tahun 1494 memberi gelar kepada raja dan ratu ini sebagai “Catholic Monarch” atau “Los Reyes Catolicos” atau Raja Katolik.

Kejatuhan Daulah Bani Ahmar merupakan akhir sejarah kejayaan Islam di Spanyol. Pasca kejatuhan kerajaan Islam terakhir ini, umat Islam diberi dua pilihan: berpindah keyakinan (masuk Kristen) atau keluar dari tanah Spanyol.
Memasuki Abad 16, Andalusia (Spanyol) yang selama 8 Abad dalam kekuasaan Islam, bersih dari keberadaan umat Islam. Kemegahan dan keindahan Istana Alhambra pun luntur setelah menjadi Istana Kristen. Demikian pula Masjid Cordova yang dijadikan katedral “Virgin of Assumption”.

Namun Islam tidak benar-benar lenyap di negeri ini. Kini umat Islam di Spanyol diperkirakan sudah mencapai 750.000 orang (data sensus 2000) dari 40 juta jumlah total penduduk Spanyol. Islam menggeliat bangkit ketika pemerintah Spanyol mengakui Islam sebagai agama resmi berdasarkan UU Kebebasan Beragama yang disahkan pada Juni 1967.

Di ibukota Madrid terdapat 500 ribu Muslim, kebanyakan imigran asal Maroko, Algeria, dan negara-negara Arab lain. Gema adzan pun mulai marak berkumandang di beberapa masjid. Belum lagi banyak pesepakbola Muslim di klub-klub sepakbola elit Spanyol saat ini. Semoga kejayaan masa lampau itu kembali diraih. Allahu Akbar!  

Sumber:  http://www.salam-online.com

Saturday, September 20, 2014

SUASANA MENGHIJAU MEMUKAU DI KAMPUNG SRI GUNUNG PULAI

Sejarah Kampung Sri Gunung Pulai kurang lengkap jika tidak menyelitkan kediaman Misbah Martantiha, 79, antara yang tertua dan masih utuh.
Bergelar warga emas dan pergerakan sedikit terbatas, tidak menghalang individu ini yang begitu bersemangat untuk bercerita sejarah pembinaan kediamannya itu.
“Seingat saya kediaman ini dibina pada 1965 dan hingga kini sudah tiga kali diubah suai.

“Tanpa mengubah seni bina asal, proses membaik pulih juga banyak membabitkan bahagian depan dan strukturnya supaya kekal bertahan,” kata Misbah yang berasal dari Seri Bunian, Pontian, Johor.
123 N 123
FotoKEUNIKAN kediaman tertua ini dari pelbagai sudut.
123 N 123
Buktinya, seni bina asal kediaman itu masih jelas kelihatan menyamai rumah tradisional Johor.

Besar harapan Misbah supaya generasi muda terutama anak dan cucunya lebih mengenali nilai estetika yang ada pada kediaman itu sebagai ‘harta’ paling bernilai.

“Sekurang-kurang­nya orang muda tahu asal usul dan betapa unik­nya kediaman ini kerana mempunyai sejarah pembinaan tersendiri,” kata­nya yang satu ketika dulu pakar dalam membina kediaman.

Ingin tahu binaan pada ruang dalaman mendorong penulis melangkah masuk ke dalam rumah.

Ternyata satu yang membanggakan apabila suasana segar dan semula jadi dapat dinikmati sebaik berada di ruang tamu.

Binaan jendela bercirikan tradisional itu dilengkapi dengan kemasan langsir ringkas.

Menerusinya, pemandangan landskap di luar dapat disaksikan sepenuhnya dari atas rumah.

Perincian kediaman yang dibina sendiri itu turut menarik perhatian dengan idea penataan ruang.

Masih mengekalkan penggayaan klasik, ruang dihiasi perabot menarik penuh keselesaan.

Semestinya latar landskap di kediaman sarat khazanah itu juga kelihatan lebih matang de­ngan kehijauan hamparan rumput dan pelbagai tanaman terpilih.

Set kerusi dan meja santai simenferro menjadi tempat rehat ketika petang dan pagi sambil menghirup udara segar.

Reka letak landskap lembut dan kejur begitu selari dalam menonjolkan idea binaan taman hijau.

“Sejak dulu saya gemar suasana hijau semula jadi dan pokok yang ditanam pula daripada jenis mudah dijaga serta tidak memerlukan penjagaan rapi.

“Ramai yang mengatakan ia menarik, tapi bagi saja sekadar biasa-biasa saja,” katanya.

Kerja penyelenggaraan landskap juga banyak dibantu isteri, Nirah Kasan, 70, selain anak dan cucu.
- See more at: http://mobile.hmetro.com.my/myMetro/articles/Saratnilaiestetika/2013/Article/index_html#sthash.cB4aAiim.dpuf
Kami ambil rencana ini daripada Harian Metro kerana kampung Sri Gunung Pulai ini letaknya berdekatan dengan sekolah kami. Di hujung kampung ini ada kawasan perkelahan air terjun. Rencana ditulis oleh Hartini Mohd Nawi.

Mengenali penduduk di Kampung Sri Gunung Pulai, Kulaijaya, Johor hakikatnya memahat kenangan paling indah. Kunjungan penulis disambut sebilangan besar penduduknya dengan persiapan rapi untuk membantu kelancaran sesi temu bual. Tidak dinafikan keunikan landskap semula jadinya membuatkan kampung istimewa ini sarat dengan rentetan sejarah tersendiri. Anda yang pernah mengunjungi kampung berkenaan pasti tidak ketinggalan membawa pulang cerita suasana hijau memukau pandangan mata itu.


Foto
AIR berpancuran menjadi tarikan pertama.

Masakan tidak, peminat aktiviti lasak perlu melewati kampung ini sebelum memulakan pendakian ke Gunung Pulai. Saban tahun, kampung ini menjadi sebutan apabila beberapa kali menerima anugerah landskap dalam pelbagai kategori. Terbaru, kampung ini menerima Anugerah Desa Sejahtera 1Malaysia (ADS1M) 2014, selain Anugerah Desa Cemerlang Peringkat Negeri Johor 2012 dan Anugerah Desa Cemerlang /Desa Sejahtera Peringkat Negeri Johor 2013.

Mewakili penduduk, Jamalludin Abdol Hamid berkata, kewujudan landskap sedemikian rupa adalah hasil kerjasama penduduk kampung itu sendiri yang begitu muafakat dalam segala hal.

“Sama dengan tahun sebelumnya, landskap yang ada hari ini berdasarkan tema semangat patriotik selari dengan bulan kemerdekaan dan sambutan Hari Malaysia. Kami cuba kekalkan suasana hijau dan panorama semula jadi supaya menjadi pelengkap kepada panorama asli sebuah kampung. Ia sekali gus dilihat mempunyai kesinambungan apabila persekitaran kampung ini sendiri yang terletak di kaki Gunung Pulai,” katanya yang juga Timbalan Ketua Umno Bahagian Kulai.

Bermula dengan binaan air berpancuran yang terpahat nama Kampung Sri Gunung Pulai dengan dekoratif menarik dihiasi pelbagai bunga-bungaan segar. Simbolik menyambut kunjungan sesiapa saja ke kampung itu turut disempurnakan dengan pintu gerbang kreatif yang tertulis perkataan selamat datang.

“Landskap bahagian luar ini kami rancang rapi supaya menjadi tarikan pertama sebaik menjejakkan kaki ke sini. Permulaan semula jadi ini pasti menjadi pendorong untuk meneroka keindahan landskap seluruh kampung ini pula,” katanya.

Deretan pokok pulai pula kelihatan menghiasi jalan utamanya selain beberapa pokok teduhan lain. Singgah di tempat yang sering menjadi pertemuan penduduk kampung untuk pelbagai aktiviti khususnya mesyuarat, Dewan Raya dan Anjung Seri nyata ada tarikannya. Bangunan yang dibina sepenuhnya berasaskan kayu, Anjung Seri begitu sarat dengan nilai estetika rumah limas Johor. Ruang terbuka yang diwujudkan memudahkan penduduk berkumpul dan mengeratkan silaturahim. 

“Sekurang-kurangnya ia antara kesinambungan identiti kampung ini yang berbeza dengan kampung lain. Pelancong yang datang ke sini pula berpeluang mengenali atau menghayati keunikan khazanah seakan-akan rumah limas Johor ini,” kata Jamalludin mewakili ketua kampung, Roskalana Wagiman yang kini menunaikan haji.

Nama kampung ini turut terkenal dek keindahan Hutan Lipur Gunung Pulai. Sejarah awal kampung ini bermula pada 1955 dan dikatakan dibuka dua sahabat iaitu Allahyarham Mohid Kassan dan Allahyarham Ahmad Suppian Ishak. Malah, nama kampung ini turut dikaitkan kedudukannya di kaki Gunung Pulai dan terdapat banyak pokok pulai di sekitarnya. 

Sejarah Kampung Sri Gunung Pulai kurang lengkap jika tidak menyelitkan kediaman Misbah Martantiha, 79, antara yang tertua dan masih utuh. Bergelar warga emas dan pergerakan sedikit terbatas, tidak menghalang individu ini yang begitu bersemangat untuk bercerita sejarah pembinaan kediamannya itu. 

“Seingat saya kediaman ini dibina pada 1965 dan hingga kini sudah tiga kali diubah suai. Tanpa mengubah seni bina asal, proses membaik pulih juga banyak membabitkan bahagian depan dan strukturnya supaya kekal bertahan,” kata Misbah yang berasal dari Seri Bunian, Pontian, Johor.
  



 KEUNIKAN kediaman tertua ini dari pelbagai sudut. 

Buktinya, seni bina asal kediaman itu masih jelas kelihatan menyamai rumah tradisional Johor. Besar harapan Misbah supaya generasi muda terutama anak dan cucunya lebih mengenali nilai estetika yang ada pada kediaman itu sebagai ‘harta’ paling bernilai.

“Sekurang-kurang­nya orang muda tahu asal usul dan betapa unik­nya kediaman ini kerana mempunyai sejarah pembinaan tersendiri,” kata­nya yang satu ketika dulu pakar dalam membina kediaman.

Ingin tahu binaan pada ruang dalaman mendorong penulis melangkah masuk ke dalam rumah. Ternyata satu yang membanggakan apabila suasana segar dan semula jadi dapat dinikmati sebaik berada di ruang tamu. Binaan jendela bercirikan tradisional itu dilengkapi dengan kemasan langsir ringkas. Menerusinya, pemandangan landskap di luar dapat disaksikan sepenuhnya dari atas rumah.

Perincian kediaman yang dibina sendiri itu turut menarik perhatian dengan idea penataan ruang. Masih mengekalkan penggayaan klasik, ruang dihiasi perabot menarik penuh keselesaan. Semestinya latar landskap di kediaman sarat khazanah itu juga kelihatan lebih matang de­ngan kehijauan hamparan rumput dan pelbagai tanaman terpilih. Set kerusi dan meja santai simenferro menjadi tempat rehat ketika petang dan pagi sambil menghirup udara segar. Reka letak landskap lembut dan kejur begitu selari dalam menonjolkan idea binaan taman hijau.

“Sejak dulu saya gemar suasana hijau semula jadi dan pokok yang ditanam pula daripada jenis mudah dijaga serta tidak memerlukan penjagaan rapi. Ramai yang mengatakan ia menarik, tapi bagi saja sekadar biasa-biasa saja,” katanya. 

Kerja penyelenggaraan landskap juga banyak dibantu isteri, Nirah Kasan, 70, selain anak dan cucu

Sejarah Kampung Sri Gunung Pulai kurang lengkap jika tidak menyelitkan kediaman Misbah Martantiha, 79, antara yang tertua dan masih utuh.
Bergelar warga emas dan pergerakan sedikit terbatas, tidak menghalang individu ini yang begitu bersemangat untuk bercerita sejarah pembinaan kediamannya itu.
“Seingat saya kediaman ini dibina pada 1965 dan hingga kini sudah tiga kali diubah suai.

“Tanpa mengubah seni bina asal, proses membaik pulih juga banyak membabitkan bahagian depan dan strukturnya supaya kekal bertahan,” kata Misbah yang berasal dari Seri Bunian, Pontian, Johor.

123 N 123
FotoKEUNIKAN kediaman tertua ini dari pelbagai sudut.
123 N 123
Buktinya, seni bina asal kediaman itu masih jelas kelihatan menyamai rumah tradisional Johor.


Besar harapan Misbah supaya generasi muda terutama anak dan cucunya lebih mengenali nilai estetika yang ada pada kediaman itu sebagai ‘harta’ paling bernilai.

“Sekurang-kurang­nya orang muda tahu asal usul dan betapa unik­nya kediaman ini kerana mempunyai sejarah pembinaan tersendiri,” kata­nya yang satu ketika dulu pakar dalam membina kediaman.

Ingin tahu binaan pada ruang dalaman mendorong penulis melangkah masuk ke dalam rumah.

Ternyata satu yang membanggakan apabila suasana segar dan semula jadi dapat dinikmati sebaik berada di ruang tamu.

Binaan jendela bercirikan tradisional itu dilengkapi dengan kemasan langsir ringkas.

Menerusinya, pemandangan landskap di luar dapat disaksikan sepenuhnya dari atas rumah.

Perincian kediaman yang dibina sendiri itu turut menarik perhatian dengan idea penataan ruang.

Masih mengekalkan penggayaan klasik, ruang dihiasi perabot menarik penuh keselesaan.

Semestinya latar landskap di kediaman sarat khazanah itu juga kelihatan lebih matang de­ngan kehijauan hamparan rumput dan pelbagai tanaman terpilih.

Set kerusi dan meja santai simenferro menjadi tempat rehat ketika petang dan pagi sambil menghirup udara segar.

Reka letak landskap lembut dan kejur begitu selari dalam menonjolkan idea binaan taman hijau.

“Sejak dulu saya gemar suasana hijau semula jadi dan pokok yang ditanam pula daripada jenis mudah dijaga serta tidak memerlukan penjagaan rapi.

“Ramai yang mengatakan ia menarik, tapi bagi saja sekadar biasa-biasa saja,” katanya.

Kerja penyelenggaraan landskap juga banyak dibantu isteri, Nirah Kasan, 70, selain anak dan cucu

- See more at: http://mobile.hmetro.com.my/myMetro/articles/Saratnilaiestetika/2013/Article/index_html#sthash.cB4aAiim.dpuf

INFO

• Kampung Sri Gunung Pulai turut menjalinkan kerjasama dengan Kulim Nursery Sdn Bhd (KNSB) untuk mengindahkan persekitaran termasuk membekalkan baja Bionik.

Sejarah Kampung Sri Gunung Pulai kurang lengkap jika tidak menyelitkan kediaman Misbah Martantiha, 79, antara yang tertua dan masih utuh.
Bergelar warga emas dan pergerakan sedikit terbatas, tidak menghalang individu ini yang begitu bersemangat untuk bercerita sejarah pembinaan kediamannya itu.
“Seingat saya kediaman ini dibina pada 1965 dan hingga kini sudah tiga kali diubah suai.

“Tanpa mengubah seni bina asal, proses membaik pulih juga banyak membabitkan bahagian depan dan strukturnya supaya kekal bertahan,” kata Misbah yang berasal dari Seri Bunian, Pontian, Johor.
123 N 123
FotoKEUNIKAN kediaman tertua ini dari pelbagai sudut.
123 N 123
Buktinya, seni bina asal kediaman itu masih jelas kelihatan menyamai rumah tradisional Johor.

Besar harapan Misbah supaya generasi muda terutama anak dan cucunya lebih mengenali nilai estetika yang ada pada kediaman itu sebagai ‘harta’ paling bernilai.

“Sekurang-kurang­nya orang muda tahu asal usul dan betapa unik­nya kediaman ini kerana mempunyai sejarah pembinaan tersendiri,” kata­nya yang satu ketika dulu pakar dalam membina kediaman.

Ingin tahu binaan pada ruang dalaman mendorong penulis melangkah masuk ke dalam rumah.

Ternyata satu yang membanggakan apabila suasana segar dan semula jadi dapat dinikmati sebaik berada di ruang tamu.

Binaan jendela bercirikan tradisional itu dilengkapi dengan kemasan langsir ringkas.

Menerusinya, pemandangan landskap di luar dapat disaksikan sepenuhnya dari atas rumah.

Perincian kediaman yang dibina sendiri itu turut menarik perhatian dengan idea penataan ruang.

Masih mengekalkan penggayaan klasik, ruang dihiasi perabot menarik penuh keselesaan.

Semestinya latar landskap di kediaman sarat khazanah itu juga kelihatan lebih matang de­ngan kehijauan hamparan rumput dan pelbagai tanaman terpilih.

Set kerusi dan meja santai simenferro menjadi tempat rehat ketika petang dan pagi sambil menghirup udara segar.

Reka letak landskap lembut dan kejur begitu selari dalam menonjolkan idea binaan taman hijau.

“Sejak dulu saya gemar suasana hijau semula jadi dan pokok yang ditanam pula daripada jenis mudah dijaga serta tidak memerlukan penjagaan rapi.

“Ramai yang mengatakan ia menarik, tapi bagi saja sekadar biasa-biasa saja,” katanya.

Kerja penyelenggaraan landskap juga banyak dibantu isteri, Nirah Kasan, 70, selain anak dan cucu.
- See more at: http://mobile.hmetro.com.my/myMetro/articles/Saratnilaiestetika/2013/Article/index_html#sthash.cB4aAiim.dpuf

Wednesday, May 14, 2014

LEGOLAND MALAYSIA

Taman tema Legoland Malaysia yang meriah dan penuh berwarna warni menggamit kehadiran ribuan pengunjung. Taman INI telah dirasmikan oleh Sultan Johor, Sultan Ibrahim Iskandar bersama  Raja Zarith Sofiah Almarhum Sultan Idris Shah. Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Razak bersama Menteri Besar Johor, Datuk Abdul Ghani Othman dan bekas Perdana Menteri, Tun Abdullah Ahmad Badawi turut berada dalam senarai tetamu kenamaan yang hadir dalam perasmian itu. 

Perdana Menteri yang juga Pengerusi Bersama Pihak Berkuasa Wilayah Pembangunan Iskandar (IRDA), turut menegaskan usaha pembangunan Iskandar Malaysia dijalankan berdasarkan prinsip dan inspirasi untuk menambah serta mencipta nilai menjana perkembangan kekayaan negara. Beliau berkata, Legoland Malaysia contoh terbaik dan pemangkin projek berimpak tinggi di bawah Iskandar Malaysia yang mampu memacu perkembangan ekonomi negara dan dapat meningkatkan taraf sosio ekonomi Johor umumnya melalui peluang pekerjaan, program latihan serta pembangunan tenaga kerja yang dibiayai kerajaan. Adalah menjadi hasrat kerajaan menjadikan ekonomi negara lebih kompetitif selain menarik lebih banyak pelabur ke negara ini. Iskandar Malaysia contoh terbaik perancangan kerajaan untuk mewujudkan lebih banyak pelaburan.  

Bukan saja Legoland Malaysia, selepas ini pelbagai projek berimpak tinggi akan dibangunkan seperti Mall of Medini, Taman Tema Keluarga Puteri Harbour dan hab pendidikan Educity. Legoland Malaysia yang juga taman keenam seumpama itu di dunia dan pertama di Asia, dimiliki bersama Themed Attractions and Resorts Sdn Bhd (TAR), Iskandar Investment Berhad (IIB) dan Merlin Entertainments Group.


    












Saturday, May 3, 2014

TAMAN NEGARA TANJUNG PIAI, JOHOR PENGHUJUNG SELATAN TANAH BESAR ASIA

Taman Negara Tanjung Piai, Johor terletak di Daerah Pontian. Jarak dari sekolah kitorang lebih kurang 20 km. Jelasnyanya, taman ini juga dikenali sebagai 'Penghujung Selatan Tanah Besar Asia' dan ia telah diisytiharkan sebagai tapak Ramsar pada 31 Januari 2003. Kami bangga kerana di tempat kami ada taman negara ini yang dipenuhi dengan hutan kayu bakau. Kami juga bangga kerana kawasan ini terletak di penghujung paling selatan benua Asia. 


Benua Asia yang meliputi Arab Saudi di bahagian barat, Russia di utara, Kepulauan Maldives di selatan, dan Jepun di timur merupakan benua yang terbesar di dunia, meliputi 55.8 juta kilometer persegi atau satu pertiga daratan dunia. Terdapat beberapa wilayah yang termasuk dalam Benua Asia, iaitu Asia Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan dan Asia Barat. Benua Asia mempunyai penduduk paling ramai, iaitu lebih kurang 60 peratus daripada jumlah penduduk dunia.

 
Di Benua Asia terletak Banjaran Himalaya yang terpanjang di dunia; Gunung Everest  yang tertinggi di dunia; Tasik Baikal yang terdalam di dunia; Laut Mati yang mempunyai air paling masin di dunia; Laut Kaspia iaitu tasik air masin terbesar di dunia, dan Selat Melaka yang merupakan selat terpanjang di dunia.


Benua Asia bermula dari garis bujur 28° Timur di Turki sehingga 170° Barat di Semenanjung Kamchatka dan dari garis lintang 10° Selatan sehingga 75° Utara. Benua Asia direntasi oleh Garisan Artik, Garisan Sartan dan Garisan Khatulistiwa.

Titik paling akhir Benua Asia terletak di Tanjung Piai, dalam daerah Pontian, Johor, pada latitud 01.16° Utara dan longitude 103.30.46° Timur .


Tanjung Piai terletak kira-kira 75 kilometer dari Bandar Raya Johor Bahru. Untuk sampai ke sini, jika perjalanan anda melalui Lebuh Raya Utara-Selatan, susur keluar ke Simpang Renggam menuju ke Benut. Teruskan perjalanan ke Pontian, kemudian ke Kukup. Setelah sampai di Kukup, ikut arah papan tanda yang menunjukkan jalan ke Tanjung Piai. Pada masa ini tiada perkhidmatan bas ekspres yang disediakan untuk ke Taman Negara Tanjung Piai. Perkhidmatan teksi boleh didapati dari stesen bas Pontian.


Tanjung Piai dinamakan sempena pokok bijirin tempatan yang dikenali sebagai pokok paku piai. Hutan bakau yang luas di sini digazetkan sebagai Hutan Simpan Paya Bakau oleh Jabatan Perhutanan Negeri Johor. Hutan bakau ini membentuk koridor paya bakau yang menyambungkan Pulau Kukup dengan tanah lembap Sungai Pulai. 


Keseluruhan kawasan Taman Negara Tanjung Piai meliputi 526 hektar kawasan bakau dan 400 hektar kawasan tanah lembut dan berlumpur. Terdapat hampir 30 spesis tumbuhan bakau di sini. Di sini dikatakan terdapat lima spesies burung air dan tujuh spesies burung pantai.

  
Pokok bakau melindungi pesisiran pantai daripada hakisan dan menghindari banjir, di samping memberikan perlindungan dan pembiakan ikan, ketam, udang, pelbagai jenis molaska dan binatang-binatang lain. Burung-burung hijrah akan singgah di hutan bakau untuk berehat dan mendapatkan makanan sebelum terbang semula ke kawasan yang ditujui. 

 
Kini, Tanjung Piai diisytiharkan sebagai Taman Negara memandangkan di sini terdapat kekayaan khazanah alam semula jadi iaitu hutan, hutan paya bakau serta pelbagai spesies flora dan fauna. Taman ini juga menjadi tempat kediaman pelbagai jenis unggas dan hidupan paya bakau yang lain seperti ketam nipah, ikan tembakul serta kera pemangsa ketam. 


Sebelum diisytiharkan sebagai Taman Negara, Tanjung Piai adalah sebahagian daripada Hutan Simpan Bakau Sungai Pulai di bawah pengawasan Jabatan Perhutanan. Tanjung Piai telah diluluskan oleh Kerajaan Negeri Johor sebagai Taman Negara Johor pada tahun 1997. Kajiselidik ekologi telah dijalankan oleh Wetlands International-Malaysia pada tahun 2001. Pada tahun 2002, taman ini telah dibuka kepada orang ramai dan digazetkan sebagai Taman Negara Johor pada 26 Februari 2004.

  
Taman ini juga telah diisytiharkan tapak Ramsar pada 31 Januari 2003. Ramsar mengambil sempena nama sebuah bandar di Iran yang menjadi tuan rumah Konvensyen Tanah Lembap Berkepentingan Antarabangsa yang pertama pada tahun 1971. Tujuan utama konvensyen ini adalah untuk memulihara tanah lembap yang merupakan tempat berehat dan mencari makanan bagi burung-burung hijrah. 


Malaysia menganggotai Konvensyen Tanah Lembap Berkepentingan Antarabangsa atau Ramsar pada tahun 1994. Tasek Bera di Negeri Pahang telah diisytiharkan sebagai tapak Ramsar pertama negara ini pada tahun tersebut. Sehingga kini, antara kawasan yang telah diisytiharkan sebagai Tapak Ramsar ialah Sungai Pulai, Tanjung Piai dan Pulau Kukup di Johor dan Kuching Wetland National Park di Sarawak. Terdapat 26 kawasan lain di seluruh Malaysia turut dikenal pasti sebagai kawasan tanah lembap yang mempunyai kepentingan antarabangsa. 


Bersebelahan pintu masuk ke Taman Negara Tanjung Piai dibina sebuah mercu tanda bagi menggambarkan bahawa Tanjung Piai ialah “Tanah Paling Selatan Benua Asia”.  Mercu tanda yang berukuran 20 meter tinggi dan 10 meter lebar ini dibina oleh kerajaan negeri Johor pada tahun 2001. Bahan binaan mercu tanda ini ialah gentian konkrit mesra alam berwarna kelabu. Warna kelabu dipilih bagi menggambarkan kekayaan hutan paya pakau dan dataran lumpur yang terdapat di penghujung Benua Asia ini. 


Pada permukaan mercu tanda diukir dua pelepah pokok piai raya (acrostichum aureum) bagi mengabadikan sejarah nama Tanjung Piai. Pokok  piai raya didapati tumbuh dengan banyaknya bersama-sama pokok bakau di sini. Tanjung pula bermaksud tanah atau tanah tinggi yang menganjur ke laut. Peta dunia yang terpapar menjelaskan kedudukan sebenar “Tanah Paling Selatan Benua Asia”  supaya dapat dihayati dan dihargai oleh para pelawat.
Sebelum masuk, anda perlu membeli tiket yang dijual di kaunter. Harga tiket adalah RM5 bagi dewasa (RM10 bagi pelancong luar negara) dan RM3 bagi pelawat yang berumur bawah 18 tahun (RM5 bagi pelancong luar negara). Kemudahan asas yang disediakan di sini ialah surau, tandas, kawasan perkhemahan, kaunter penerangan dan tempat meletak kenderaan. 


Antaranya aktiviti pelawat yang datang ke sini adalah berkhemah, memancing, melihat kunang-kunang dan melihat pemandangan serta keindahan Selat Teberau. Pelancong, terutama pelajar boleh mendapatkan maklumat tentang hutan bakau dan maklumat lain yang dipamerkan dalam kawasan taman. Setiap maklumat disertakan gambar yang berkaitan supaya senang difahami. 


Setelah masuk ke kawasan taman, terdapat laluan khas berupa jambatan kayu yang dibina merentasi hutan paya bakau ke beberapa destinasi. Terdapat laluan untuk ke pelantar yang sering menjadi tumpuan kaki pancing. Pelantar ini juga menjadi tempat pelancong menikmati keindahan Selat Melaka. Dari kejauhan kelihatan kapal-kapal yang melalui selat ini. Sewaktu cuaca cerah, Pulau Kerimon, Indonesia juga dapat dilihat dari pelantar ini. 


Terdapat laluan untuk pelawat menuju ke destinasi yang mesti dikunjungi, iaitu pelantar yang dibina menganjur ke laut Selat Melaka. Di pelantar ini dibina sebuah mercu tanda berbentuk bumi bagi menggambarkan bahawa di sinilah titik paling hujung di Benua Asia.



Sumber artikel:  laman artikel DBP

Wednesday, June 5, 2013

LANDSKAP DI ENTRANCE LOST WORLD OF TAMBUN

Lost World of Tambun ialah sebuah taman tema yang terletak di Tambun, Ipoh, Perak. Berhampiran bandar Ipoh. Perbelanjaan bagi membina taman tema ini dianggarkan berjumlah RM60 juta serta merupakan taman semula jadi terbesar di Malaysia. 

Lost World of Tambun adalah 'Dunia Yang Hilang Disebalik Bukit Batu Kapur 400' juta tahun. Pemandangan sekeliling taman ini dilatari keindahan alam semula jadi dengan pemandangan hutan batu kapur yang indah, dipercayai berusia lebih 400 tahun, selain tasik yang tenang menghijau dan gunung yang membuatkan anda berasa seperti penjelajah National Geographic.

Lost World of Tambun, Ipoh Perak memang masih mengekalkan ciri-ciri seni bina purba ala-ala purba Mesir. Taman Tema ini memang beraura mungkin disebabkan dikelilingi bukit batu kapur yang berusia 400 juta tahun dan hutan khatulistiwa semulajadi.

Apa yang ada di sini?
  • Taman tema berlatarbelakangkan bukit batu kapur, gua dan hutan semulajadi. Memang boleh merelakskan fikiran. 
  • Di sini ada kolam air panas yang asli diambil dari sumber asalnya sejauh 600 meter. 
  • Di sini ada 'jungle wave bay' iaitu kolam ombak tiruan terbesar di Malaysia dengan tujuh pukulan ombak yang berbeza (keluasan 3,200 meter persegi)
  • Di sini juga ada 'adventure river', sungai buatan terpanjang di asia dengan 600 meter. Kita boleh mengembara menggunakan pelampung sepanjang sungai berombak ini dikelilingi patung-patung haiwan dan kesan bunyi haiwan.
  • .....dan bermacam lagi.

Semasa kami tiba di sini, ia sesak dengan pengunjung yang terlalu ramai. Keadaan ini menjadikan kami kurang berminat nak masuk ke dalam. Di bawah ini kami sajikan landskap di pintu masuk ke taman ini. Ia berkonsepkan 'dunia yang hilang di sebalik bukit batu kapur'.